Rabu, 18 Desember 2013

KETERAMPILAN MENDENGARKAN

KETERAMPILAN MENDENGARKAN

A.    PENGERTIAN
Keterampilan mendengarkan  salah satu alat komunikasi yang sangat penting  dimiliki setiap orang terutama dalam menjalankan kontak sosial dengan orang lain. Kepandaian mendengarkan tidak terbatas hanya dalam pengertian pandai atau terampil saja, melainkan kepandaian itu harus dikaitkan dengan  sopan santun dan sesuai  dengan tatacara atau tatanilai yang kita anut sebagai bangsa yang memiliki moral agama dan moral kebangsaan.
Dalam kehidupan sebagian aktivitas  mendengarkan dan berbicara rutin dilaksanakan yang membuat kita merasa suatu kebiasaan yang lumrah tidak memiliki peraturan. Padahal baik buruknya hubungan sosial sangat tergantung saat kita menjalankan aktivitas salah satunya adalah mendengarkan.
Dalam kehidupan, banyak kita temui orang yang arif dan bijaksana.  Orang tersebut dapat dipastikan adalah orang yang memiliki kesopanan berbicara dan mendengarkan. Oleh karena itu keterampilan tersebut harus dibina dari usia dini sampai ke jenjang pendidikan formal.
Adapun beberapa definisi mendengarkan adalah sebagai berikut:
Mendengar adalah  kegiatan manangkap bunyi secara tidak sengaja (secara kebetulan saja).
Contoh: Ketika sedang belajar, saya mendengar piring  jatuh. Saya menoleh ke     arah suara itu, kemudian saya melanjutkan belajar kembali. (Tarigan: 12)
Mendengarkan adalah  proses menangkap bunyi bahasa dengan disengaja tetapi belum memahami.
Contoh: Katika sedang belajar di kamar, saya mendengarkan lagu kesenangan saya yang disiarkan melalui radio. Kemudian, saya sejenak berhenti belajar untuk menikmati lagu tersebut sampai selesai. Setelah selesai, saya melanjutkan belajar kembali. (Tarigan: 14)
Mendengarkan adalah proses menangkap bunyi bahasa yang direncanakan dengan penuh perhatian, dipahami, diinterpretasi, diapresiasi,  dievaluasi, ditanggapi, dan ditindaklanjuti.
Contoh:  Setiap hari Selasa pukul 18.30 WIB, saya mendengarkan siaran pembinaan bahasa Indonesia yang disiarkan melalui TVRI. Sebelum siaran dimulai, saya menyiapkan buku dan pulpen untuk mencatat hal-hal yang saya anggap penting. Saat siaran berlangsung, sesekali saya mencatat dan mengangguk-anggukan kepala bahwa saya memahami pembicaraan yang berlangsung. Setelah selesai, saya merasa puas bahwa persoalan yang saya hadapi selama ini telah terjawab. (Tarigan: 15)
Berdasarkan uraian di atas, maka jelas bahwa kata mendengar, mendengarkan, dan mendengarkan mempunyai makna berbeda. Dalam membedakannya tergantung pada suasana dan pemahaman. Hal ini dapat diketahui melalui penilaian setelah pembicaraan selesai. Yang perlu kita pahami adalah walaupun dalam ilmu bahasa kata atau istilah yang paling tepat digunakan mendengarkan, semua itu kembali kepada masyarakat pengguna bahasa. Dalam masyarakat kita atau di sekolah, kata yang sering digunakan mendengarkan bukan mendengarkan. Oleh sebab itu kata yang digunakan dalam modul ini adalah kata mendengarkan.

B.     TAHAP-TAHAP MENDENGARKAN
Setelah Anda mendiskusikan perbedaan ketiga kata di atas tadi, selanjutnya untuk menambah wawasan Anda, silakan lanjutkan kembali diskusinya  mengenai tahap-tahap dalam mendengarkan. Mendengarkan perosesnya dilakukan  secara bertahap. Tahap-tahap ini sangat mempengaruhi hasilnya  yang tujuan akhirnya apakah si pendengar memahami apa yang telah disampaikan.
Berikut  ini  tahap-tahap dalam mendengarkan menurut  (Tarigan: 1990: 58) ada empat yaitu:
a)      Tahap mendengar
Tahap mendengar merupakan proses yang dilakukan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraan, hal ini barulah tahap mendengar atau berada dalam tahap hearing.
b)      Tahap memahami
Setelah proses mendengarkan pembicaraan  disampaikan, maka isi pembicaraan tadi perlu dimengerti atau dipahami dengan baik. Tahap ini disebut tahap understanding.
c)      Tahap menginterpretasi
Penyimak yang baik, cermat, dan teliti belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara tetapi ada keinginan untuk menafsirkan atau menginterpretasikan isi yang tersirat dalam ujaran, tahap ini sudah sampai pada tahap interpreting.
d)     Tahap mengevaluasi
Tahap mengevaluasi merupakan tahap terakhir dalam kegiatan mendengarkan. Penyimak menerima pesan, ide, dan pendapat yang disampaikan oleh pembicara maka penyimak pun pada tahap terakhir ini menanggapi isi dari pembicaraan tadi.
Baiklah setelah Anda mendiskusikan tahap-tahap dalam mendengarkan, maka jelas bahwa dalam mendengarkan memerlukan proses. hal ini sesuai dengan kebutuhan dari apa yang kita harapkan.

C.    JENIS-JENIS MENDENGARKAN
Setelah Anda mengetahui tahap-tahap mendengarkan, berikut ini kita akan membahas jenis-jenis mendengarkan. Dalam proses mendengarkan, semua kegiatan yang dilakukan mempunyai jenis dan ini dapat digolongkan berdasarkan situasinya.
Secara garis besar, Tarigan (1983: 22) membagi jenis mendengarkan menjadi dua jenis yaitu (1) mendengarkan ekstensif, dan (2) mendengarkan intensif. Kedua jenis mendengarkan ini sangatlah berbeda dan perbedaan itu tampak dalam prosesnya. Adapun jenis mendengarkan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a.      Mendengarkan Ekstensif
Mendengarkan ekstensif ialah proses mendengarkan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mendengarkan siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya. Ada beberapa jenis kegiatan mendengarkan ekstensif:
·         Mendengarkan sekunder
Mendengarkan sekunder terjadi secara kebetulan, misalnya seorang pembelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orang lain, suara siaran radio, suara TV, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia terganggu oleh suara tersebut.
·         Mendengarkan sosial
Mendengarkan sosial dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. Kegiatan ini lebih menekankan pada factor status sosial, dan tingkatan dalam masyarakat.
·         Mendengarkan estetika
Mendengarkan estetika sering disebut mendengarkan apresiatif. Mendengarkan estetika ialah kegaiatan mendengarkan untuk menikmati dan menghayati sesuatu, misalnya; mendengarkan pembacaan puisi, mendengarkan rekaman drama, mendengarkan cerita, mendengarkan syair lagu, dan sebagainya.
·         Mendengarkan pasif
Mendengarkan pasif ialah mendengarkan suatu bahasa yang dilakukan tanpa upaya sadar, misalnya; dalam kehidupan sehari-hari pembelajar mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa daerah. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar. Namun, pada akhirnya, pembelajar dapat menggunakan bahasa dengan baik.
b.      Mendengarkan Intensif
Mendengarkan intensif merupakan kegiatan mendengarkan yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan konsentrasi yang tinggi untuk menangkap makna yang dikehendaki. Dalam mendengarkan intensif ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu cirri mendengarkan intensif dan jenis-jenis mendengarkan intensif.
a)      Ciri-Ciri Mendengarkan Intensif
Menurut (Kamidjan dan Suyono, 2002: 12) dalam mendengarkan intensif ada beberapa ciri yang harus diperhatikan yaitu:
Ø  Mendengarkan intensif adalah mendengarkan pemahaman
Pemahaman ialah suatu aspek pikiran tentang suatu objek. Pemahaman merupakan hasil dari proses memahami terhadap suatu bahan simakan. Siswa dikatakan memahami objek jika ia telah menguasai seluruh objek itu. Pada dasarnya orang melakukan kegiatan mendengarkan intensif bertujuan untuk memahami makna bahan yang disimak dengan baik. Hal ini berbeda dengan mendengarkan ekstensif yang lebih menekankan pada hiburan, kontak sosial, dan sebagainya. Mendengarkan intensif prioritas utamanya adalah memahami makna pembicaraan.
Ø  Mendengarkan intensif memerlukan konsentrasi tinggi
Konsentrasi ialah memuaskan semua perhatian baik pikiran, perasaan, ingatan dan sebagainya kepada suatu objek. Dalam mendengarkan intensif diperlukan oemusatan pikiran terhadap bahan yang disimak.
Agar mendengarkan dapat  dilakukan dengan konsentrasi yang tinggi, maka perlu dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: (a) menjaga pikiran agar tidak terpecah, (b) perasaan tenang dan tidak bergejolak, (c) perhatian terpusat pada objek yang sedang disimak, (d) penyimak harus mampu menghindari berbagai hal yang dapat mengganggu kegiatan mendengarkan, baik internal maupun eksternal.
Ø  Mendengarkan intensif ialah memahami bahasa formal
Bahasa formal ialah bahasa yang digunakan dalam situasi formal (resmi), misalnya; ceramah, diskusi, temu ilmiah, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan pada kegiatan tersebut adalah bahasa resmi atau bahasa baku yang lebih menekankan pada makna.
Ø  Mendengarkan intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan
Reproduksi ialah kegiatan mengungkapkan kembali sesuatu yang telah dipahami. Untuk membuat reproduksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (a) tulis (menulis, mengarang) dan (b) lisan (berbicara).
Reproduksi dilakukan setelah mendengarkan. Fungsi reproduksi antara lain: (a) mengukur kemampuan integratif antara mendengarkan dengan berbicara, (b) untuk mengukur kemampuan integratif  antara mendengarkan dengan menulis atau mengarang, (c) mengetahui kemampuan daya serap siswa, dan (d) untuk mengetahui timgkat pemahaman siswa tentang bahan yang telah disimak.

b)     Jenis-Jenis Mendengarkan Intensif
Setelah kita mempelajari ciri-ciri mendengarkan intensif, sekarang akan dibahas  jenis-jenis mendengarkan intensif. Jenis-jenis mendengarkan intensif adalah mendengarkan kritis, mendengarkan konsentratif, mendengarkan eksploratif,  mendengarkan interogatif, mendengarkan selektif, dan mendengarkan kreatif (HG. Tarigan, 1983; 42)
Ø  Mendengarkan kritis
Mendengarkan kritis ialah kegiatan mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebenaran, dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangannya.
Hal-hal yang diperhatikan dalam mendengarkan kritis: (a) mengamati ketepatan ujaran pembicara, (b) mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa mendengarkan”, (c) dapatkah mendengarkan membedakan antara fakta dan opini dalam mendengarkan, (d) dapatkah menjawab mengambil kesimpulan dari hasil mendengarkan, (e) dapatkah penyimak menafsirkan makna idiom, ungkapan, dan majas dalam kegaiatan mendengarkan. (Kamidjan, 2002: 13).
Ø  Mendengarkan konsentratif
Mendengarkan konsentratif ialah kegiatan mendengarkan yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang diperdengarkan.
Kegiatan mendengarkan konsentratif bertujuan untuk: (a) mengikuti petunjuk-petunjuk, misalnya petunjuk untuk mengisi formulir pendaftaran, (b) mencari hubungan antarunsur dalam mendengarkan, misalnya; unsure-unsur dalam bahasa, (c) mencari hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen, (d) mencari hal-hal penting dalam kegiatan mendengarkan, (e) mencari urutan penyajian dalam bahan mendengarkan, dan (f) mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak. Kamidjan, 2002: 14)
Ø  Mendengarkan eksploratif
Mendengarkan eksploratif ialah kegiatan mendengarkan yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan inormasi baru. Pada akhir kegiatan mendengarkan, penyimak; (a) menemukan gagasan baru, (b) menemukan informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, (c) penyimak dapat menemukan topik-topik baru yang dapat dikembangkan pada masa yang akan dating, (d) penyimak dapat menemukan unsur-unsur bahasa yang bersifat baru.
Ø  Mendengarkan interogatif
Mendengarkan interogatif ialah kegiatan mendengarkan yang bertujuan untuk memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut.
Kegiatan mendengarkan interogatif bertujuan: (a) penyimak ingin mendapat fakta-fakta dari pembicara, (b) mendengarkan gagasan baru yang dapat dikembangkan menjadi sebuah wacana yang menarik, (c) penyimak ingin mendapatkan informasi apakah bahan yang telah disimak itu asli atau tidak.
Ø  Mendengarkan selektif
Mendengarkan selektif ialah kegiatan mendengarkan pasif yang dilakukan secara selektif dan berfokus untuk mengenal bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk bahasa yang sedang dipelajari.
Mendengarkan selektif mempunyai cirri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan mendengarkan yang lain. Adapun cirri mendengarkan selektif ialah: (a) mendengarkan dengan seksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan, (b) mendengarkan dengan memperhatikan topik-topik tertentu,  (c) mendengarkan dengan memusatkan pada tema-tema tertentu.
Ø  Mendengarkan kreatif
Mendengarkan keratif ialah kegaiatan mendengarkan yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas belajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara: (a) menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau daerah, misalnya; bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan sebagainya, (b) penyimak dapat mengemukakan gagasan yang sama dengan pembicara, namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang berbeda, (c) penyimak dapat merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, (d) penyimak dapat menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar materi yang telah disimak.
Berdasarkan uraian di atas maka jelas bahwa dalam mendengarkan kita mengenal dua jenis yaitu intensif dan ekstensif. Masing-masing jenisnya diuraikan kembali ke dalam beberapa jenis sesuai dengan kedalaman dan kedangkalan dari proses mendengarkan.

D.    TUJUAN MENDENGARKAN
Pernah Anda dalam melakukan mendengarkan mempunyai tujuan tertentu? Tentu jawabannya pernah bukan? Apapun yang kita lakukan dalam mendengarkan tentu pada akhirnya kita memperoleh imformasi yang bentuknya bisa saja informasi yang kita dapat  berupa hal yang baru ataupun sekedar mengingat kembali karena sudah kita ketahui.
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi, ada pembicara dan ada pula pendengarnya. Dalam mendengarkan, seseorang selalu mempunyai tujuan. Menurut HG Tarigan dalam Hunt  (1981: 14), tujuan mendengarkan ada empat yaitu:
a.       Untuk memperoleh informasi yang ada hubungan  dengan profesi.
b.      Agar menjadi lebih efektif dalam berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Untuk mengumpulkan data dalam membuat keputusan(.
d.      Memberikan respon yang tepat.
Menurut HG Tarigan dalam Logan (1972: 42) tujuan orang dalam mendengarkan ada beberapa hal yaitu:
a.       Untuk memperoleh pengetahuan atau mendengarkan untuk belajar.
b.      Hal ini didapatkan dari nara sumber langsung atau melalui audio   visual.
c.       Menikmati keindahan audio
d.      Ini didapatkan dari apa yang diperdengarkan atau dipagelarkan.
e.       Mengevaluasi
f.       Dalam mengevaluasi, para penyimak ingin mengevaluasi apa yang disimak itu benar, tidak benar, jelek, logis, dan tidak logis.
g.      Mengapresiasi bahan simakan
h.      Dalam mendengarkan ada orang mendengarkan dengan maksud dan tujuan agar dapat menikmati serta menghargai apa yang disimak.
i.        Mengkomunikasikan ide-ide sendiri
j.        Ada orang yang mendengarkan dengan maksud agar dia dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.
k.      Membedakan bunyi-bunyi
l.        Dalam membedakan bunyi ini, biasanya ketika orang belajar bahasa asing.
m.    Memecahkan masalah
n.      Biasanya penyimak mempunyai masalah yang sedang dihadapi.
o.      Untuk meyakinkan
p.      Seseorang  mendengarkan  dengan tekun karena  untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan.
Dari uraian di atas   dapat disimpulkan bahwa tujuan mendengarkan dari seseorang tidaklah sama dan ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan mulai dari  memperoleh informasi  sampai pada pemecahan masalah.

E.     SYARAT-SYARAT PENDENGAR YANG BAIK
Baiklah, berikut ini  akan dibahas mngenai ciri-ciri pendengar yang baik. Setiap manusia yang lahir dalam keadaan normal tentu sudah mempunyai potensi yang baik untuk mendengarkan. Potensi ini perlu dipupuk dan dikembangkan melalui bimbingan dan latihan yang intensif. Kebiasaan mendengarkan yang baik adalah satu syarat yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil mendengarkan  dengan baik. Berikut ini ada beberapa ciri pendengar yang baik. Cobalah arahkan siswa Anda untuk melakukannya agar mereka berhasil dengan baik.
a.    Siap fisik dan mental
Penyimak yang baik adalah penyimak yang betul-betul mempersiapkan diri untuk mendengarkan. Ia memiliki kesiapan fisik dan mental, misalnya dalam kondisi yang sehat, tidak lelah, mental stabil dan pikiran jernih.

b.      Konsentrasi
Penyimak yang baik, dapat memusatkan perhatian dam pikirannya terhadap apa yang disimak.  Bahkan ia dapat menghubungkan bahan yang disimak dengan apa yang diketahuinya. Suatu kebiasaan yang sangat buruk dalam mendengarkan adalam melamun. Walaupun pandangan penyimak tertuju pada si pembicara, namun pikiran dan perhatiannya mengembara ke mana-mana tanpa tujuan dan arah tertentu. Hal ini tentu sulit untuk menyerap informasi karena perhatian dan pikiran mengembara ke mana-mana.
c.       Bermotivasi ingin menambah ilmu pengetahuan
Penyimak yang baik mempunyai motivasi atau mempunyai tujuan tertentu, misalnya; ingin menambah pengetahuan, dengan mempelajari sesuatu. Adanya tujuan atau motivasi ini tentunya untuk menambah ilmu apa yang diharapkan.
d.      Objektif
Penyimak yang baik adalah penyimak yang selalu tahu tentang apa yang sedang dibicarakan dan sebaiknya penyimak selalu menghargai pembicara  walaupun pembicara kurang menarik penempilannya atau sudah dikenal oleh penyimak.
e.       Mendengarkan secara utuh (menyeluruh)
Penyimak yang baik akan mendengarkan secara utuh atau keseluruhan. Si penyimak tidak hanya mendengarkan apa yang disukainya tetapi mendengarkan secara keseluruhan.
f.       Selektif
Penyimak yang baik dapat memilih bagian-bagian yang dianggap penting dari bahan simakan. Dalam mendengarkan tidak semua bahan simakan diterima begitu saja, tetapi  si penyimak dapat menentukan bagian yang dianggap penting.
g.      Tidak mudah terganggu
Penyimak yang baik tidak mudah terganggu oleh suara-suara lain di luar bunyi yang disimaknya. Andaikata ada gangguan yang membedakan perhatiannya, dengan cepat si penyimak kembali kepada bahan yang disimaknya.
h.      Menghargai Pembicara
Penyimak yang baik adalah penyimak yang menghargai pembicaranya. Siapapun yang berbicara tidaklah boleh dianggap remeh karena harus saling menghargai.


i.        Cepat menyesuaikan diri dan kenal arah pembicaraan
Penyimak yang baik adalah penyimak yang cepat menduga ke arah mana pembicaraa akan berlangsung bahkan mungkin ia dapat menduga garis besar isi pembicaraan.
j.        Tidak Emosi
Penyimak yang baik adalah penyimak yang dapat mengendalikan emosinya dan tidak mencela pembicaraan pembicara.
k.      Kontak dengan pembicara
Penyimak yang baik mencoba mengadakan kontak dengan pembicara. Misalnya dengan memperhatikan pembicaraan pembicara, memberikan dukungan kepada pembicara baik  melalui mimik, gerak, ataupun ucapan.
l.        Merangkum
Penyimak yang baik adalah penyimak yang dapat menangkap isi pembicaraan atau bahan simakan. Misalnya; dengan membuat rangkuman dan menyampaikan atau menceritakan kembali hasil simakannya. Namun, perlu diingat, selama mendengarkan jangan hanya asyik mencatat sehingga pesan pembicara tidak lagi dapat dipahami.
m.    Menilai
Bagian terakhir fari proses mendengarkan adalah proses penilaian terhadap materi yang disampaikan. Pada saat menilai tersebut, penyimak mulai menimbang, memeriksa dan membandingkan apakah pokok-pokok pikiran yang dikemukakan oleh si pembicara dikaitkan atau dihubungkan dengan pengalaman atau pengetahuan si penyimak, sehingga si penyimak dapat menilai kekuatan dari bahan simakan tersebut.
n.      Mengadakan tanggapan
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan mengevaluasi bahan simakan, penyimak mengemukakan tanggapan atau reaksi, misalnya: dengan mengemukakan komentar. Realsi akan terlihat dalam bentuk ucapan pendek seperti; wah menarik sekali, sependapat dan sebagainya. Atau reaksi tersebut dapat juga berupa anggukan dan senyuman yang menandakan si penyimak setuju  atau puas terhadap isi pembicaraan.
(Djago Tarigan: 1986: 413)



F.           SUASANA DALAM MENDENGARKAN
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendengarkan. Untuk itu silakan pahami dan diskusikanlah dengan teman Anda. Ingat, agar pemahaman Anda lebih mudah, silakan kaitkan  contohnya dengan kehidupan Anda sehari-hari.
HG Tarigan; 1986: 66-68 mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam suasana mendengarkan yaitu sebagai berikut:
a.             Suasana Defensif
Suasana defensif atau bertahan biasanya diperlukan saat mendengarkan hal yang sungguh-sungguh dan ini biasanya bersifat:
v   Evaluatif
Hal ini biasanya terjadi pada penyimak yang memancing  penilaian khusus. Contoh; ucapan yang memancing penilaian dari penyimak. “Kami akan menunjukkan kepada Anda, apakah Anda orang yang soleh atau tidak, orang yang rajin atau malas.”
v   Mengawasi
Pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara adakalanya membuat penyimak  bersiap-siap mengontrol benar tidaknya, jujur tidaknya apa yang disampaikan. Contoh; “Saudara-saudara, dengan tegas saya katakan, bahwa saya adalah orang syoleh, jujur, berbudi luhur, tidak pernah berdusta. Saya kira saya tidak mempunyai cacat cela. Kalau saya terpilih, saya akan memajukan desa kita ini dengan sekuat saya.”
v   Strategis
Pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara membuat penyimak harus berkonsentrasi secara khusus sebab yang disampaikan berupa himbauan yang harus dipatuhi. Contoh; “Saudara-saudara, sudah lama saya memikirkan bagaimana supaya Saudara semua mengerjakan sesuatu sesuai dengan cara dan keinginan saya. Sekarang cara saya itu sudah mantap tidak dapat diragukan lagi. Oleh karena itu turutilah cara ini agar Saudara mendapat kemajuan.”
v   Netral
Tidak jarang pesan-pesan yang disampaikan atau dikemukakan oleh pembicara, meransang penyimak untuk bertindak atau berpikir netral, tidak memihak pada orang atau golongan tertentu. Contoh; “Saudara-saudara harus tahu, saya tidak mau tahu dengan masalah orang itu! Apa gunanya saya melibatkan diri dengan masalah orang lain yang saya tidak tahu menahu ujung pangkalnya.”
v   Superior
Menganggap diri sendiri lebih unggul dari orang lain. Para penyimak biasanya akan bertahan atau meninggalkan ruangan bila dari pembicara berbicara dengan rasa tinggi hati, merasa lebih unggul dari orang lain. Contoh; “Kamu harus tahu bahwa kamu ini belum apa-apa dibandingkan dengan saya. Ya atau tidak cobalah bandingkan dengan baik; Kamu orang desa, saya orang kota; kamu tidak berpendidikan, saya intelektual.”
v   Pasti dan Tentu
Pembicara mengemukakan sesuatu yang pasti, memancing  penyimak untuk  bertahan. Contoh: “Engkau boleh pilih: mengaku atau saya pancung kepalamu! Saya hanya bisa memberi pilihan, tidak ada cara lain, hanya itu! Bagaimana, beri jawaban yang tegas, lekas!”
b.            Suasana Suportif
Suasana suportif adalah bersifat mendukung yang timbul dari pihak pembicara. Ada enam  komunikasi suportif dalam mendengarkan yaitu;
v   Deskripsi
Suasana mendengarkan dapat menjadi suportif apabila pembicara mengimplikasikan atau deskripsikan sesuatu dengan jelas.
v   Orientasi Permasalahan
Pembicaraan yang berorientasi pada berbagai permasalahan dapat  menjadikan suasana  mendengarkan yang suportif. Memang pesan yang disimak biasanya lebih mudah disimak dan dipahami isinya.
v   Spontanitas
Dalam mendengarkan, pembicara yang menyampaikan pembicaraannya secara spontanitas jelas akan  menjadikan penyimak lebih mudah memahami isi pesan yang disampaikan.
v   Empati
Ketegasan merupakan suatu unsur penting yang harus dimanfaatkan  oleh pembicara dalam menyampaikan pesannya.. Mengapa? Karena hal itu dapat menimbulkan suasana suportif pada penyimak dalam menyerap dan memahami isi pesan pembicara.
v   Ekualitas
Unsur lain dalam berbicara yang dapat menjadikan suasana suportif dalam kegiatan mendengarkan adalah ekualitas atau adil.  Unsur ini sebaiknya dimanfaatkan oleh pembicara untuk menarik minat penyimak terhadap pesan yang disampaikan.
v   Provesionalisme
Ketepatan dan ketentuan yang berlaku walaupun sifatnya sementara merupakan unsur pembentuk suasana mendengarkan yang suportif. Unsur ini dapat dimanfaatkan pembicara untuk menarik minat penyimak.

G.          FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAM MENDENGARKAN
Dalam mendengarkan banyak hal yang mempengaruhinya, akibatnya adalah gagalnya kita memahami apa yang akan kita inginkan. Untuk itu, cobalah diskusikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mendengarkan.
Menurut HG Tarigan dalam Hunt (1981: 19-20)  factor-faktor yang mempenagruhi mendengarkan adalah:
a.     Sikap
b.    Motivasi
c.    Pribadi
d.    Situasi kehidupan
e.    Peranan dalam masyarakat.
Sedangkan HG Tarigan; 1986: 99-107, mengatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi dalam mendengarkan adalah sebagai berikut.
a.            Faktor Fisik
Pada waktu mendengarkan faktor fisik adalah faktor penting yang turut menentukan kefektifan dalam  mendengarkan. Di sekolah guru hendaklah dengan cermat dan teliti menyiapkan suasana  belajar  yang tidak mudah mendatangkan gangguan  bagi kegiatan mendengarkan. Apabila siswa ada yang bermasalah dengan telinga atau pendengaran maka siswa tersebut duduknya harus di depan agar simakan jelas.
b.      Faktor Psikologis
Di samping faktor fisik yang telah dikemukakan di atas ada hal yang sangat sulit diatasi yaitu faktor psikologis. Faktor tersebut mencakup masalah antara lain:
§  Berprasangka dan kurangnya simpati terhadap pembicara.
§  Egois terhadap masalah pribadi.
§  Berpandangan sempit terhadap isi pembicaraan.
§  Kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tidak adanya perhatian terhadap pokok pembicaraan.
§  Sikap yang tidak senang terhadap pembicara.
c.             Faktor Pengalaman
Pengalaman adalah faktor yang sangat penting dalam mendengarkan. Apabila seseorang berpengalaman dalam mendengarkan maka bahan simakan akan dikaitkan dengan pengalaman yang telah dimiliki. Selain itu kosakata yang dimiliki si penyimakpun sangat banyak dan jika menyampaikan kembali sangatlah lancar.
d.            Faktor Sikap
Pada dasarnya manusia hidup mempunyai dua sikap utama yaitu sikap menerima dan menolak. Orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya, tetapi ia akan bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan baginya. Kedua hal ini memberi dampak pada penyimak yaitu dampak positif dan negatif.
e.             Faktor Motivasi
Motivasi merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan berhasil mencapai tujuan. Begitu pula halnya dengan mendengarkan.Dalam kegiatan mendengarkan kita melibatkan sistem penilaian kita sendiri. Kalau kita memperoleh sesuatu yang berharga dari pembicaraan maka kita akan bersemangat mendengarkannya.
f.              Faktor Jenis Kelamin
Gaya mendengarkan pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, mudah dipengaruhi, mudah mengalah dan emosional. Sedangkan gaya mendengarkan wanita pada umumnya bersifat pasif, lembut, tidak mudah dipengaruhi , mengalah, dan tidak emosi.
g.            Faktor Lingkungan
Dalam faktor lingkungan dapat dibagi  dua yaitu (1) lingkungan fisik. Lingkungan fisik yang penting adalah ruangan kelas yaitu sarana pendukung diantaranya akustik. Guru  harus mengarahkan dengan jelas dan juga membangkitkan motivasi siswa agar mereka dapat mendengarkan dengan baik. (2) Lingkungan sosial; dalam mendengarkan sebaiknya  wacana yang dibacakan mendorong siswa untuk mengalami, mengekspresikan serta mengevaluasi ide-ide yang disimak.
h.            Faktor Peranan dalam Masyarakat
Mendengarkan tidak terlepas dari masyarakat dan lingkungannya. Informasi yang didapat bisa  melalui radio, TV, nara sumber, dan masyarakat sekitarnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa  faktor yang mempengaruhi mendengarkan sangat banyak mulai dari diri sendiri sampai pada masyarakat luas. Yang penting sebagai penyimak yang baik  kita harus menghindari faktor-faktor yang menyebabkan kita gagal dalam mendengarkan.

H.    CARA MENINGKATKAN DAYA SIMAK
Nah, setelah Anda memahami faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mendengarkan, selanjutknya silakan pahami bagaimana cara meningkatkan daya simak. Tujuannya adalah agar informasi yang kita dengarkan berhasil dengan baik. Menurut HG Tarigan (1986: 147-152) untuk meningkatkan daya simak, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.
a.            Mendengarkan konversasif
Untuk perbaikan serta kemajuan dalam mendengarkan konversasif maka dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini.
o      Menyiapkan siswa dengan baik agar perhatian terfokus pada apa yang disampaikan.
o      Menyampaikan cara mendengarkan yang baik.
o      Membuat rekaman dan menerapkan cara-cara menjadi penyimak yang baik.
o      Mengevaluasi percakapan yang disimak.
o      MeMemotivasi siswa untuk menilai dirinya sendiri.
o      Memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk saling menilai.
b.            Mendengarkan Apresiatif
Dalam upaya  meningkatkan serta mengembangkan kemampuan siswa dalam mendengarkan, maka berikut ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
o      Membuat rekaman cerita dan puisi yang digemari oleh siswa, kemudian siswa  mendiskusikan cerita atau puisi tersebut dalam kelompok.
o      Menceritakan tentang pemandangan yang disenangi oleh siswa.
o      Siswa secara bergiliran menceritakan kembali apa yang telah dibacanya.
o      Menceritakan kembali apa yang disimak dari radio atau TV.
o      Memilih salah satu topik yang menarik untuk disimak kemudian memberikan penjelasan mengapa topik itu dipilih untuk disimak.
o      Membuat lembar penilaian  untuk penilaian penyimakan dari radio atau TV.
o      Membentuk panitia untuk memberikan pengumuman pada suatu lomba mendengarkan.
c.             Mendengarkan Eksplorasif
Untuk meningkatkan mendengarkan eksplorasif ini maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan.
o   Untuk memperluas dan memahami makna kata, sebelum mendengarkan para siswa dapat membaca kata-kata tertentu yang telah dituliskan di papan tulis. Mereka akan memahami makna dengan memperhatikan konteks pemakaian kata-kata tersebut dalam bahan simakan.
o   Setelah mendengarkan suatu petunjuk yang dibacakan satu kali, siswa disuruh melakukannya, misalnya; eksperimen sesuai dengan bahan simakan.
o   Setelah mendengarkan suatu petunjuk, siswa disuruh menuliskannya sesuai dengan apa yang disimak.
o   Siswa mendengarkan informasi baru  mengenai suatu topik. Cara yang baik membantu siswa dalam mendengarkan informasi adalah mereka mendengarkan dengan menyiapkan pertanyaan atau masalah yang telah dimiliki. Untuk mengetahuinya guru dapat mengajukan berbagai pertanyaan.
d.      Mendengarkan Konsentratif
Dalam mendengarkan konsentratif ini ada beberapa cara yang dapat ditempuh.
§    Permainan sederhana dengan melibatkan siswa mengulangi apa yang telah dikatakan dalam pernyataan-pernyataan kumulatif sebelumnya.
Contoh:
Ani         : “Saya membeli jeruk.”
Ana        : “Saya membeli jeruk dan pisang.”
Ina         : “Saya membeli jeruk, pisang, dan mangga.”
Ida          : “Saya membeli jeruk, pisang, mangga, dan durian.”
Permainan ini berlangsung terus selama daftar komulatif lengkap dan dalam susunan yang benar.
§    Mempantomimkan suatu cerita (tiga atau empat adegan) yang sebelumnya telah disampaikan secara lisan.
§    Menceritakan kembali sesuai dengan hasil simakan.
§    Membuat gambar-gambar sesuai dengan cerita yang disimak.

Hal lain yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan adalah menganalisis  rekaman singkat atau pidato yang dibacakan oleh guru. Adapun yang dapat mereka dengarkan adalah:
o   Memperhatikan pendahuluan atau kalimat pembuka.
o   Mendengarkan hal-hal penting yang terdapat dalam pidato.
o   Mendiskusikan hal-hal penting yang telah disimak.
o   Memperhatikan kesimpulan.

I.       PERILAKU BURUK DAN BAIK DALAM MENDENGARKAN
Untuk keberhasilan dalam mendengarkan, tentunya Anda harus menghindari prilaku buruk yang tidak boleh dilakukan dalam mendengarkan dan melakukan serta menerapkan hal yang baik agar mendengarkan berhasil.
Dalam percakapan tentu ada yang berbicara dan mendengarkan. Bila seseorang sedang berada dalam posisi mendengarkan, sebaiknya ia bertindak sebagai pendengar yang baik. Tetapi dalam kenyataannya tidaklah demikian karena sering sekali pendengar memperlihatkan perilaku yang buruk.
Menurut Atar Semi (1994; 62-65) ada beberapa ciri-ciri perilaku mendengarkan yang buruk dan baik. Adapun perilaku tersebut adalah sebagai berikut:
*            Ciri-ciri perilaku mendengarkan yang buruk
a.       Selalu mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung. Misalnya; tidak memperhatikan pembicara atau melakukan kesibukan lain.
b.      Mengalihkan pikiran ke masalah lain atau tidak berkonsentrasi.
c.       Memperlihatkan sikap yang hendak memotong pembicaraan.
d.      Tidak dapat menyimpulkan isi pembicaraan.
e.       Menulis semua pembicaraan tanpa mempunyai kemampuan menulis ide pokok.
f.       Tidak mempunyai reaksi saat diajukan pertanyaan, apabila ya maka kelihatan terkejut dan pertanyaan diminta untuk diulang.
g.      Tidak menunjukkan kegairahan serat bergaya acuh tak acuh.
h.      Bermain-main dengan pulpen, kertas, mengerak-gerakan kaki, menggigit kuku, dan lain-lain.
i.        Mengajak teman berbicara yang tidak ada kaitannya dengan pembicaraan.
Dari uraian di atas maka jelas bahwa apabila ada penyimak yang melakukan hal-hal tersebut maka penyimak tersebut  kehadirannya tidak bermanfaat atau pengganggu kelancaran dalam berdiskusi.
Selanjutnya agar kita mendengarkan berhasil dengan baik, perhatikanlah cirri-ciri pendengar yang baik.
*            Ciri-ciri perilaku mendengarkan yang baik.
a.       Pandangannya tertuju kepada lawan bicara ketika pembicaraan sedang berlangsung.
b.      Apabila sedang mencatat pembicaraan, maka pandangannya tertuju pada pembicara dan catatan.
c.       Mengajukan pertanyaan apabila ada bagian isi pembicaraan yang meragukan.
d.      Apabila menanggapi, maka akan mengulangi  kata-kata pembicara kemudian langsung memberikan pendapat secara singkat.
e.       Tidak mempunyai prasangka buruk, karena itu ia dengan tekun mendengarkan apa yang disampaikan pembicara.
f.       Memperhatikan dengan penuh perhatian keterangan dengan berusaha mengendalikan emosi disaat mendengarkan sesuatu yang tidak disetujui.
g.      Mengikuti jalannya pembicaraan dengan wajah yang penuh persahabatan, senyum, dibantu dengan sedikit anggukan kepala pertanda mengikuti pokok pembicaraan, serta dibantu pula dengan mimik yang meyakinkan.
h.      Memperhatikan lawan bicara dengan penuh perhatian.
i.        Tidak memotong pembicaraan lawan bicara dan membiarkan lawan bicara menyelesaikan kalimatnya.
j.        Tidak mengalihkan pokok pembicaraan ke pembicaraan lain.
k.      Bila perlu mencatat hal-hal yang penting saja.
l.        Tidak membuat gerakan atau tingkah laku yang mengganggu kelancaran komunikasi.

Apabila seorang penyimak memenuhi persyaratan di atas, maka ia akan mempunyai tiga keuntungan. Pertama,  akan memperoleh banyak pengetahuan. Kedua, akan menjadi pembicara yang baik. Ketiga, akan diterima baik dalam pergaulan karena memperlihatkan sikap yang baik kepada orang lain.

J.      ALASAN UNTUK MENDENGARKAN
Ada beberapa alasan mengapa orang mendengarkan. Untuk itu Anda perlu memahami mengapa seseorang mempunyai alasan mendengarkan. Menurut HG Tarigan (1986:140-1420) mengemukakan ada beberapa alasan mengapa orang mendengarkan.
a.      Ingin mempelajari sesuatu dari bahan simakan
Banyak cara untuk belajar. Salah satu caranya adalah melalui mendengarkan. Misalnya dengan mendengarkan ceramah, pidato, ilmu pengetahuan baik melalui sekolah ataupun langsung dari nara sumber lainnya.
b.      Ingin memikat hati orang lain
Hidup adalah memberi dan menerima, menghargai dan dihargai. Salah satu cara untuk menghargai serta untuk dapat memikat hati orang lain adalah dengan cara mendengarkan pembicaraan pembicara. Bagi orang yang sudah sering berbicara  di muka umum akan jelas terasa betapa sedihnya kalau orang tidak mendengarkan pembicaraannya. Setiap pembicara akan senang atau menaruh simpati kepada orang yang mendengarkan pembicaraannya.
c.       Ingin menjadi orang yang sopan
Salah satu ciri dari orang yang sopan adalah mau mendengarkan pembicaraan misalnya; keluhan dan pesan dari orang lain
d.      Ingin mencari keuntungan
Dalam dunia moderen ini ada orang yang bisa mendapatkan rizki melalui mendengarkan yang sering disebut dengan “uang dengar” Hal ini sering terjadi dalam penawaran baik dari penjual ataupun dari pembeli. Seseorang dapat bisa memperoleh rejeki atau uang  dengan mempertemukan  penjual dan pembeli lalu jadilah transaksi maka si penyimak akan memperoleh uang.
e.       Memperoleh manfaat dari bahan simakan
Dalam kegiatan mendengarkan selain memperoleh uang juga dapat pula moral nonmaterial. Dari berbagai kegiatan mendengarkan  seseorang dapat mengetahui, memahami, bahkan dapat memecahkan masalah. Dengan demikian si penyimak dapat terhindar dari masalah yang sedang dihadapi.
f.     Ingin menghilangkan rasa bosan
Rasa bosan bisa terjadi pada semua orang. Untuk mengobatinya maka dapat dilakukan mendengarkan yang ada hubungan dengan hobi kita. Atau dapat juga mendengarkan dengan menonton lawak, film di TV.
g.      Ingin membandingkan beberapa pendapat
Penjelasan atau keterangan mengenai suatu ilmu dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk sumber lisan. Semakin banyak kita mendengarkan penjelasan dari beberapa nara sumber, maka cakrawala pandangan kita mengenai ilmu  semakin luas. Selain itu kita pun dapat mengetahui  perbedaan dan persamaan pendapat dari para nara sumber tersebut.
h.      Ingin memenuhi rasa ingin tahu
Sebagai manusia  mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu adalah hal yang sangat wajar karena apabila kita banyak mengetahui sesuatu maka semakin banyak pula kita tidak tahu. Ini adalah salah satu dorongan atau motivasi yang membuat kita ingin mendengarkan.
i.      Ingin disenangi orang lain
Seorang guru atau pembimbing   harus menjadi penyimak yang sabar. Segala keluhan atau kendala dari seseorang harus didengarkan dengan baik. Semakin sabar dan asyik ia mendengarkan kata hati orang lain, maka semakin banyak pula orang yang menyenangi serta membutuhkannya.

Berdasarkan uraian di atas maka jelas bahwa mendengarkan sangat penting dan menguntungkan karena dengan mendengarkan kita mendapatkan informasi, menguntungkan, untuk menghibur diri, dan untuk membandingkan pendapat yang  sudah kita peroleh sebelumnya.
K.    TIPS UNTUK MEMPERBAIKI KEMAMPUAN MENDENGAR
Merasa tertinggal pada saat orang-orang disekitar Anda berbahasa Inggris? Jangan khawatir! Mendengar mungkin merupakan keahlian yang paling sulit untuk dikuasai, tetapi bukannya tidak mungkin. Gunakan lima petunjuk praktis berikut untuk meningkatkan keahlian mendengar Anda!
ü  Pahami keterbatasan Anda
Dengarkan bahasa Inggris sebanyak mungkin, tapi dalam periode waktu yang singkat. Otak Anda bukanlah mesin! Jika Anda mulai merasa frustrasi dan tidak mengerti, istirahatlah dan mulai lagi nanti. Ingat, mengembangkan keahlian mendengar yang baik membutuhkan banyak waktu, latihan, dan kesabaran.
ü  Harus selektif
Menerjemahkan setiap kata yang Anda dengar akan membuat Anda ketinggalan keseluruhan percakapan. Jika Anda mendengar orang berbahasa Inggris, perhatikan kalimat-kalimat kuncinya. Catat dan terjemahkan nanti. Anda akan merasa keterampilan mendengar Anda meningkat dan kosa-kata Anda bertambah.
ü  Perhatikan pola suara
Pernah memperhatikan bagaimana penutur asli menekankan kata-kata tertentu? Benar! Jika Anda mendengarkan dengan baik, Anda akan menemui polanya. Isi kata (kata benda, kata kerja, dan kata sifat) biasanya diberi tekanan, sedangkan kata fungsi (preposisi, kata ganti, dsb) tidak. Perhatikan penekanan kata, dan Anda akan dapat mengerti garis besar dari sebuah dialog atau percakapan.
ü  Tontonlah DVD
Semua orang suka menonton film. Jadi, mengapa tidak menggunakannya untuk latihan mendengar? Caranya mudah! Lihat satu babak dari film favorit Anda. Pertama, tonton dengan menggunakan teks bahasa Indonesia agar Anda memahaminya. Kemudian tonton lagi, tetapi gunakan teks bahasa Inggris. Saat ini, Anda seharusnya sudah mengerti dialog dan alur ceritanya. Sekarang, tonton sekali lagi tanpa teks, dan hanya fokus pada mendengarkan.

REFERENSI


 

1 komentar: