KETERAMPILAN MENDENGARKAN
A.
PENGERTIAN
Keterampilan mendengarkan
salah satu alat komunikasi yang sangat penting dimiliki setiap
orang terutama dalam menjalankan kontak sosial dengan orang lain. Kepandaian
mendengarkan tidak terbatas hanya dalam pengertian pandai atau terampil saja,
melainkan kepandaian itu harus dikaitkan dengan sopan santun dan sesuai
dengan tatacara atau tatanilai yang kita anut sebagai bangsa yang
memiliki moral agama dan moral kebangsaan.
Dalam kehidupan sebagian
aktivitas mendengarkan dan berbicara rutin dilaksanakan yang membuat kita
merasa suatu kebiasaan yang lumrah tidak memiliki peraturan. Padahal baik
buruknya hubungan sosial sangat tergantung saat kita menjalankan aktivitas
salah satunya adalah mendengarkan.
Dalam kehidupan, banyak kita temui
orang yang arif dan bijaksana. Orang tersebut dapat dipastikan adalah
orang yang memiliki kesopanan berbicara dan mendengarkan. Oleh karena itu
keterampilan tersebut harus dibina dari usia dini sampai ke jenjang pendidikan
formal.
Adapun beberapa definisi
mendengarkan adalah sebagai berikut:
Mendengar adalah kegiatan manangkap
bunyi secara tidak sengaja (secara kebetulan saja).
Contoh: Ketika sedang belajar, saya mendengar
piring jatuh. Saya menoleh ke arah suara itu,
kemudian saya melanjutkan belajar kembali. (Tarigan: 12)
Mendengarkan adalah proses menangkap bunyi
bahasa dengan disengaja tetapi belum memahami.
Contoh: Katika sedang belajar di kamar,
saya mendengarkan lagu kesenangan saya yang disiarkan melalui radio.
Kemudian, saya sejenak berhenti belajar untuk menikmati lagu tersebut sampai
selesai. Setelah selesai, saya melanjutkan belajar kembali. (Tarigan: 14)
Mendengarkan adalah proses menangkap bunyi
bahasa yang direncanakan dengan penuh perhatian, dipahami, diinterpretasi,
diapresiasi, dievaluasi, ditanggapi, dan ditindaklanjuti.
Contoh: Setiap hari Selasa pukul
18.30 WIB, saya mendengarkan siaran pembinaan bahasa Indonesia yang disiarkan
melalui TVRI. Sebelum siaran dimulai, saya menyiapkan buku dan pulpen untuk
mencatat hal-hal yang saya anggap penting. Saat siaran berlangsung, sesekali saya
mencatat dan mengangguk-anggukan kepala bahwa saya memahami pembicaraan yang
berlangsung. Setelah selesai, saya merasa puas bahwa persoalan yang saya hadapi
selama ini telah terjawab. (Tarigan: 15)
Berdasarkan uraian di atas, maka
jelas bahwa kata mendengar, mendengarkan, dan mendengarkan mempunyai makna
berbeda. Dalam membedakannya tergantung pada suasana dan pemahaman. Hal ini
dapat diketahui melalui penilaian setelah pembicaraan selesai. Yang perlu kita
pahami adalah walaupun dalam ilmu bahasa kata atau istilah yang paling tepat
digunakan mendengarkan, semua itu kembali kepada masyarakat pengguna bahasa.
Dalam masyarakat kita atau di sekolah, kata yang sering digunakan mendengarkan
bukan mendengarkan. Oleh sebab itu kata yang digunakan dalam modul ini adalah
kata mendengarkan.
B. TAHAP-TAHAP MENDENGARKAN
Setelah Anda mendiskusikan perbedaan
ketiga kata di atas tadi, selanjutnya untuk menambah wawasan Anda, silakan
lanjutkan kembali diskusinya mengenai tahap-tahap dalam mendengarkan.
Mendengarkan perosesnya dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap ini sangat
mempengaruhi hasilnya yang tujuan akhirnya apakah si pendengar memahami
apa yang telah disampaikan.
Berikut ini tahap-tahap
dalam mendengarkan menurut (Tarigan: 1990: 58) ada empat yaitu:
a) Tahap mendengar
Tahap mendengar merupakan proses yang
dilakukan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraan, hal ini barulah tahap mendengar
atau berada dalam tahap hearing.
b) Tahap memahami
Setelah proses mendengarkan
pembicaraan disampaikan, maka isi pembicaraan tadi perlu dimengerti atau dipahami
dengan baik. Tahap ini disebut tahap understanding.
c) Tahap menginterpretasi
Penyimak yang baik, cermat, dan teliti
belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara tetapi
ada keinginan untuk menafsirkan atau menginterpretasikan isi yang
tersirat dalam ujaran, tahap ini sudah sampai pada tahap interpreting.
d) Tahap mengevaluasi
Tahap mengevaluasi merupakan tahap terakhir dalam kegiatan
mendengarkan. Penyimak menerima pesan, ide, dan pendapat yang disampaikan oleh
pembicara maka penyimak pun pada tahap terakhir ini menanggapi isi dari
pembicaraan tadi.
Baiklah setelah Anda mendiskusikan
tahap-tahap dalam mendengarkan, maka jelas bahwa dalam mendengarkan memerlukan
proses. hal ini sesuai dengan kebutuhan dari apa yang kita harapkan.
C.
JENIS-JENIS
MENDENGARKAN
Setelah Anda mengetahui tahap-tahap
mendengarkan, berikut ini kita akan membahas jenis-jenis mendengarkan. Dalam
proses mendengarkan, semua kegiatan yang dilakukan mempunyai jenis dan ini
dapat digolongkan berdasarkan situasinya.
Secara garis besar, Tarigan (1983: 22)
membagi jenis mendengarkan menjadi dua jenis yaitu (1) mendengarkan ekstensif,
dan (2) mendengarkan intensif. Kedua jenis mendengarkan ini sangatlah berbeda
dan perbedaan itu tampak dalam prosesnya. Adapun jenis mendengarkan yang
dimaksud adalah sebagai berikut.
a.
Mendengarkan Ekstensif
Mendengarkan ekstensif ialah proses
mendengarkan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mendengarkan
siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya.
Ada beberapa jenis kegiatan mendengarkan ekstensif:
·
Mendengarkan sekunder
Mendengarkan
sekunder terjadi secara kebetulan, misalnya seorang pembelajar sedang membaca
di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orang lain, suara siaran radio,
suara TV, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar
tersebut, namun ia terganggu oleh suara tersebut.
·
Mendengarkan sosial
Mendengarkan sosial dilakukan oleh
masyarakat dalam kehidupan sosial seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor
pos, dan sebagainya. Kegiatan ini lebih menekankan pada factor status sosial,
dan tingkatan dalam masyarakat.
·
Mendengarkan estetika
Mendengarkan estetika sering disebut
mendengarkan apresiatif. Mendengarkan estetika ialah kegaiatan mendengarkan
untuk menikmati dan menghayati sesuatu, misalnya; mendengarkan pembacaan puisi,
mendengarkan rekaman drama, mendengarkan cerita, mendengarkan syair lagu, dan
sebagainya.
·
Mendengarkan pasif
Mendengarkan
pasif ialah mendengarkan suatu bahasa yang dilakukan tanpa upaya sadar,
misalnya; dalam kehidupan sehari-hari pembelajar mendengarkan bahasa daerah,
setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa
daerah. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan tanpa sengaja
dan tanpa sadar. Namun, pada akhirnya, pembelajar dapat menggunakan bahasa
dengan baik.
b.
Mendengarkan Intensif
Mendengarkan intensif merupakan
kegiatan mendengarkan yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan
konsentrasi yang tinggi untuk menangkap makna yang dikehendaki. Dalam
mendengarkan intensif ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu cirri
mendengarkan intensif dan jenis-jenis mendengarkan intensif.
a)
Ciri-Ciri Mendengarkan Intensif
Menurut (Kamidjan dan Suyono, 2002: 12)
dalam mendengarkan intensif ada beberapa ciri yang harus diperhatikan yaitu:
Ø Mendengarkan intensif adalah
mendengarkan pemahaman
Pemahaman ialah suatu aspek pikiran
tentang suatu objek. Pemahaman merupakan hasil dari proses memahami terhadap
suatu bahan simakan. Siswa dikatakan memahami objek jika ia telah menguasai
seluruh objek itu. Pada
dasarnya orang melakukan kegiatan mendengarkan intensif bertujuan untuk
memahami makna bahan yang disimak dengan baik. Hal ini berbeda
dengan mendengarkan ekstensif yang lebih menekankan pada hiburan, kontak sosial, dan
sebagainya. Mendengarkan
intensif prioritas utamanya adalah memahami makna pembicaraan.
Ø Mendengarkan intensif memerlukan
konsentrasi tinggi
Konsentrasi ialah memuaskan semua perhatian baik pikiran,
perasaan, ingatan dan sebagainya kepada suatu objek. Dalam mendengarkan
intensif diperlukan oemusatan pikiran terhadap bahan yang disimak.
Agar mendengarkan dapat dilakukan dengan konsentrasi
yang tinggi, maka perlu dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: (a) menjaga
pikiran agar tidak terpecah, (b) perasaan tenang dan tidak bergejolak, (c)
perhatian terpusat pada objek yang sedang disimak, (d) penyimak harus mampu
menghindari berbagai hal yang dapat mengganggu kegiatan mendengarkan, baik
internal maupun eksternal.
Ø Mendengarkan
intensif ialah memahami bahasa formal
Bahasa formal ialah bahasa yang
digunakan dalam situasi formal (resmi), misalnya; ceramah, diskusi, temu
ilmiah, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan pada kegiatan tersebut adalah
bahasa resmi atau bahasa baku yang lebih menekankan pada makna.
Ø Mendengarkan
intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan
Reproduksi ialah kegiatan mengungkapkan
kembali sesuatu yang telah dipahami. Untuk membuat reproduksi dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu (a) tulis (menulis, mengarang) dan (b) lisan
(berbicara).
Reproduksi dilakukan setelah
mendengarkan. Fungsi reproduksi antara lain: (a) mengukur kemampuan integratif
antara mendengarkan dengan berbicara, (b) untuk mengukur kemampuan
integratif antara mendengarkan dengan menulis atau mengarang, (c)
mengetahui kemampuan daya serap siswa, dan (d) untuk mengetahui timgkat
pemahaman siswa tentang bahan yang telah disimak.
b)
Jenis-Jenis Mendengarkan Intensif
Setelah kita
mempelajari ciri-ciri mendengarkan intensif, sekarang akan dibahas
jenis-jenis mendengarkan intensif. Jenis-jenis mendengarkan intensif adalah
mendengarkan kritis, mendengarkan konsentratif, mendengarkan eksploratif,
mendengarkan interogatif, mendengarkan selektif, dan mendengarkan kreatif (HG.
Tarigan, 1983; 42)
Ø Mendengarkan
kritis
Mendengarkan kritis ialah kegiatan
mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memberikan penilaian
secara objektif, menentukan keaslian, kebenaran, dan kelebihan, serta
kekurangan-kekurangannya.
Hal-hal yang diperhatikan dalam
mendengarkan kritis: (a) mengamati ketepatan ujaran pembicara, (b) mencari
jawaban atas pertanyaan “mengapa mendengarkan”, (c) dapatkah mendengarkan
membedakan antara fakta dan opini dalam mendengarkan, (d) dapatkah menjawab
mengambil kesimpulan dari hasil mendengarkan, (e) dapatkah penyimak menafsirkan
makna idiom, ungkapan, dan majas dalam kegaiatan mendengarkan. (Kamidjan, 2002:
13).
Ø Mendengarkan
konsentratif
Mendengarkan konsentratif ialah
kegiatan mendengarkan yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh
pemahaman yang baik terhadap informasi yang diperdengarkan.
Kegiatan mendengarkan konsentratif
bertujuan untuk: (a) mengikuti petunjuk-petunjuk, misalnya petunjuk untuk
mengisi formulir pendaftaran, (b) mencari hubungan antarunsur dalam
mendengarkan, misalnya; unsure-unsur dalam bahasa, (c) mencari hubungan
kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen, (d) mencari hal-hal penting dalam
kegiatan mendengarkan, (e) mencari urutan penyajian dalam bahan mendengarkan,
dan (f) mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak. Kamidjan, 2002:
14)
Ø Mendengarkan
eksploratif
Mendengarkan
eksploratif ialah kegiatan mendengarkan yang dilakukan dengan penuh perhatian
untuk mendapatkan inormasi baru. Pada akhir kegiatan mendengarkan, penyimak;
(a) menemukan gagasan baru, (b) menemukan informasi baru dan informasi tambahan
dari bidang tertentu, (c) penyimak dapat menemukan topik-topik baru yang dapat
dikembangkan pada masa yang akan dating, (d) penyimak dapat menemukan
unsur-unsur bahasa yang bersifat baru.
Ø Mendengarkan
interogatif
Mendengarkan
interogatif ialah kegiatan mendengarkan yang bertujuan untuk memperoleh
informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada
pemerolehan informasi tersebut.
Kegiatan mendengarkan interogatif
bertujuan: (a) penyimak ingin mendapat fakta-fakta dari pembicara, (b)
mendengarkan gagasan baru yang dapat dikembangkan menjadi sebuah wacana yang
menarik, (c) penyimak ingin mendapatkan informasi apakah bahan yang telah
disimak itu asli atau tidak.
Ø Mendengarkan
selektif
Mendengarkan
selektif ialah kegiatan mendengarkan pasif yang dilakukan secara selektif dan
berfokus untuk mengenal bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi homogen,
kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk bahasa yang sedang
dipelajari.
Mendengarkan
selektif mempunyai cirri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan mendengarkan
yang lain. Adapun cirri mendengarkan selektif ialah: (a) mendengarkan dengan
seksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan, (b)
mendengarkan dengan memperhatikan topik-topik tertentu, (c) mendengarkan
dengan memusatkan pada tema-tema tertentu.
Ø Mendengarkan
kreatif
Mendengarkan
keratif ialah kegaiatan mendengarkan yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi
dan kreativitas belajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara: (a)
menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau daerah, misalnya; bahasa Inggris,
bahasa Belanda, dan sebagainya, (b) penyimak dapat mengemukakan gagasan yang
sama dengan pembicara, namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang
berbeda, (c) penyimak dapat merekonstruksi pesan yang telah disampaikan
penyimak, (d) penyimak dapat menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar
materi yang telah disimak.
Berdasarkan
uraian di atas maka jelas bahwa dalam mendengarkan kita mengenal dua jenis
yaitu intensif dan ekstensif. Masing-masing jenisnya diuraikan kembali ke dalam
beberapa jenis sesuai dengan kedalaman dan kedangkalan dari proses
mendengarkan.
D.
TUJUAN MENDENGARKAN
Pernah Anda dalam melakukan mendengarkan mempunyai tujuan
tertentu? Tentu jawabannya pernah bukan? Apapun yang kita lakukan dalam
mendengarkan tentu pada akhirnya kita memperoleh imformasi yang bentuknya bisa
saja informasi yang kita dapat berupa hal yang baru ataupun sekedar
mengingat kembali karena sudah kita ketahui.
Dalam
kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi, ada pembicara dan ada pula pendengarnya. Dalam mendengarkan, seseorang
selalu mempunyai tujuan. Menurut HG Tarigan dalam Hunt (1981: 14), tujuan
mendengarkan ada empat yaitu:
a. Untuk memperoleh informasi yang ada
hubungan dengan profesi.
b. Agar menjadi lebih efektif dalam
berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
c. Untuk mengumpulkan data dalam
membuat keputusan(.
d. Memberikan respon yang tepat.
Menurut HG Tarigan dalam Logan
(1972: 42) tujuan orang dalam mendengarkan ada beberapa hal yaitu:
a. Untuk memperoleh pengetahuan atau
mendengarkan untuk belajar.
b. Hal ini didapatkan dari nara sumber
langsung atau melalui audio visual.
c. Menikmati keindahan audio
d. Ini didapatkan dari apa yang
diperdengarkan atau dipagelarkan.
e. Mengevaluasi
f. Dalam mengevaluasi, para penyimak
ingin mengevaluasi apa yang disimak itu benar, tidak benar, jelek, logis, dan
tidak logis.
g. Mengapresiasi bahan simakan
h. Dalam mendengarkan ada orang
mendengarkan dengan maksud dan tujuan agar dapat menikmati serta menghargai apa
yang disimak.
i.
Mengkomunikasikan ide-ide sendiri
j.
Ada orang yang mendengarkan dengan maksud agar dia dapat
mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaannya kepada orang
lain dengan lancar dan tepat.
k. Membedakan bunyi-bunyi
l.
Dalam membedakan bunyi ini, biasanya ketika orang belajar
bahasa asing.
m. Memecahkan masalah
n. Biasanya penyimak mempunyai masalah
yang sedang dihadapi.
o. Untuk meyakinkan
p. Seseorang mendengarkan dengan
tekun karena untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau
pendapat yang selama ini diragukan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
tujuan mendengarkan dari seseorang tidaklah sama dan ini sesuai dengan apa yang
dibutuhkan mulai dari memperoleh informasi sampai pada pemecahan
masalah.
E.
SYARAT-SYARAT PENDENGAR YANG BAIK
Baiklah, berikut ini akan dibahas mngenai ciri-ciri
pendengar yang baik. Setiap manusia yang lahir dalam keadaan normal tentu sudah
mempunyai potensi yang baik untuk mendengarkan. Potensi ini perlu dipupuk dan
dikembangkan melalui bimbingan dan latihan yang intensif. Kebiasaan
mendengarkan yang baik adalah satu syarat yang harus dimiliki agar seseorang
dapat berhasil mendengarkan dengan baik. Berikut ini ada beberapa ciri
pendengar yang baik. Cobalah arahkan siswa Anda untuk melakukannya agar mereka
berhasil dengan baik.
a.
Siap fisik dan mental
Penyimak yang baik adalah penyimak yang
betul-betul mempersiapkan diri untuk mendengarkan. Ia memiliki
kesiapan fisik dan mental, misalnya dalam kondisi yang sehat, tidak lelah,
mental stabil dan pikiran jernih.
b. Konsentrasi
Penyimak yang baik, dapat memusatkan perhatian dam
pikirannya terhadap apa yang disimak. Bahkan ia dapat
menghubungkan bahan yang disimak dengan apa yang diketahuinya. Suatu kebiasaan
yang sangat buruk dalam mendengarkan adalam melamun. Walaupun pandangan
penyimak tertuju pada si pembicara, namun pikiran dan perhatiannya mengembara
ke mana-mana tanpa tujuan dan arah tertentu. Hal ini tentu
sulit untuk menyerap informasi karena perhatian dan pikiran mengembara ke
mana-mana.
c. Bermotivasi
ingin menambah ilmu pengetahuan
Penyimak yang baik mempunyai motivasi
atau mempunyai tujuan tertentu, misalnya; ingin menambah pengetahuan, dengan
mempelajari sesuatu. Adanya tujuan atau motivasi ini tentunya untuk menambah
ilmu apa yang diharapkan.
d. Objektif
Penyimak yang baik adalah penyimak yang
selalu tahu tentang apa yang sedang dibicarakan dan sebaiknya penyimak selalu
menghargai pembicara walaupun pembicara kurang menarik penempilannya atau
sudah dikenal oleh penyimak.
e. Mendengarkan secara utuh
(menyeluruh)
Penyimak yang baik akan mendengarkan secara utuh atau
keseluruhan. Si penyimak tidak hanya mendengarkan apa yang disukainya tetapi
mendengarkan secara keseluruhan.
f. Selektif
Penyimak yang baik dapat memilih bagian-bagian yang dianggap
penting dari bahan simakan. Dalam mendengarkan tidak semua bahan simakan
diterima begitu saja, tetapi si penyimak dapat menentukan bagian yang
dianggap penting.
g. Tidak mudah terganggu
Penyimak yang baik tidak mudah terganggu oleh suara-suara
lain di luar bunyi yang disimaknya. Andaikata ada gangguan yang membedakan
perhatiannya, dengan cepat si penyimak kembali kepada bahan yang disimaknya.
h. Menghargai Pembicara
Penyimak yang baik adalah penyimak yang menghargai
pembicaranya. Siapapun yang berbicara tidaklah boleh dianggap remeh karena
harus saling menghargai.
i.
Cepat menyesuaikan diri dan kenal arah pembicaraan
Penyimak
yang baik adalah penyimak yang cepat menduga ke arah mana pembicaraa akan
berlangsung bahkan mungkin ia dapat menduga garis besar isi pembicaraan.
j.
Tidak Emosi
Penyimak yang baik adalah penyimak yang dapat mengendalikan
emosinya dan tidak mencela pembicaraan pembicara.
k. Kontak dengan pembicara
Penyimak yang baik mencoba mengadakan kontak dengan
pembicara. Misalnya dengan memperhatikan pembicaraan pembicara, memberikan
dukungan kepada pembicara baik melalui mimik, gerak, ataupun ucapan.
l.
Merangkum
Penyimak yang baik adalah penyimak yang dapat menangkap isi
pembicaraan atau bahan simakan. Misalnya; dengan membuat rangkuman dan
menyampaikan atau menceritakan kembali hasil simakannya. Namun, perlu diingat,
selama mendengarkan jangan hanya asyik mencatat sehingga pesan pembicara tidak
lagi dapat dipahami.
m. Menilai
Bagian terakhir fari proses mendengarkan adalah proses
penilaian terhadap materi yang disampaikan. Pada saat menilai tersebut,
penyimak mulai menimbang, memeriksa dan membandingkan apakah pokok-pokok
pikiran yang dikemukakan oleh si pembicara dikaitkan atau dihubungkan dengan
pengalaman atau pengetahuan si penyimak, sehingga si penyimak dapat menilai
kekuatan dari bahan simakan tersebut.
n. Mengadakan tanggapan
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan mengevaluasi bahan
simakan, penyimak mengemukakan tanggapan atau reaksi, misalnya: dengan
mengemukakan komentar. Realsi akan terlihat dalam bentuk ucapan pendek seperti;
wah menarik sekali, sependapat dan sebagainya. Atau reaksi tersebut dapat juga
berupa anggukan dan senyuman yang menandakan si penyimak setuju atau puas
terhadap isi pembicaraan.
(Djago Tarigan: 1986: 413)
F.
SUASANA DALAM MENDENGARKAN
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendengarkan. Untuk itu silakan
pahami dan diskusikanlah dengan teman Anda. Ingat, agar pemahaman Anda lebih
mudah, silakan kaitkan contohnya dengan kehidupan Anda sehari-hari.
HG
Tarigan; 1986: 66-68 mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam suasana mendengarkan yaitu sebagai berikut:
a.
Suasana Defensif
Suasana
defensif atau bertahan biasanya diperlukan saat mendengarkan hal yang
sungguh-sungguh dan ini biasanya bersifat:
v
Evaluatif
Hal
ini biasanya terjadi pada penyimak yang memancing penilaian khusus.
Contoh; ucapan yang memancing penilaian dari penyimak. “Kami akan
menunjukkan kepada Anda, apakah Anda orang yang soleh atau tidak, orang yang
rajin atau malas.”
v
Mengawasi
Pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara adakalanya
membuat penyimak bersiap-siap mengontrol benar tidaknya, jujur tidaknya
apa yang disampaikan. Contoh; “Saudara-saudara, dengan tegas saya katakan,
bahwa saya adalah orang syoleh, jujur, berbudi luhur, tidak pernah berdusta.
Saya kira saya tidak mempunyai cacat cela. Kalau saya terpilih, saya akan
memajukan desa kita ini dengan sekuat saya.”
v
Strategis
Pesan-pesan yang disampaikan oleh pembicara membuat penyimak
harus berkonsentrasi secara khusus sebab yang disampaikan berupa himbauan yang
harus dipatuhi. Contoh; “Saudara-saudara, sudah lama saya memikirkan
bagaimana supaya Saudara semua mengerjakan sesuatu sesuai dengan cara dan
keinginan saya. Sekarang cara saya itu sudah mantap tidak dapat diragukan lagi.
Oleh karena itu turutilah cara ini agar Saudara mendapat kemajuan.”
v
Netral
Tidak jarang pesan-pesan yang disampaikan atau dikemukakan
oleh pembicara, meransang penyimak untuk bertindak atau berpikir netral, tidak
memihak pada orang atau golongan tertentu. Contoh; “Saudara-saudara harus
tahu, saya tidak mau tahu dengan masalah orang itu! Apa gunanya saya melibatkan
diri dengan masalah orang lain yang saya tidak tahu menahu ujung pangkalnya.”
v
Superior
Menganggap diri sendiri lebih unggul dari orang lain. Para
penyimak biasanya akan bertahan atau meninggalkan ruangan bila dari pembicara
berbicara dengan rasa tinggi hati, merasa lebih unggul dari orang lain. Contoh;
“Kamu harus tahu bahwa kamu ini belum apa-apa dibandingkan dengan saya. Ya
atau tidak cobalah bandingkan dengan baik; Kamu orang desa, saya orang kota;
kamu tidak berpendidikan, saya intelektual.”
v
Pasti dan Tentu
Pembicara mengemukakan sesuatu yang
pasti, memancing penyimak untuk bertahan. Contoh: “Engkau boleh
pilih: mengaku atau saya pancung kepalamu! Saya hanya bisa memberi pilihan,
tidak ada cara lain, hanya itu! Bagaimana, beri jawaban yang tegas, lekas!”
b.
Suasana Suportif
Suasana suportif adalah bersifat
mendukung yang timbul dari pihak pembicara. Ada enam komunikasi suportif
dalam mendengarkan yaitu;
v Deskripsi
Suasana mendengarkan dapat menjadi
suportif apabila pembicara mengimplikasikan atau deskripsikan sesuatu dengan
jelas.
v Orientasi Permasalahan
Pembicaraan yang berorientasi pada
berbagai permasalahan dapat menjadikan suasana mendengarkan yang
suportif. Memang pesan yang disimak biasanya lebih mudah disimak dan dipahami
isinya.
v Spontanitas
Dalam mendengarkan, pembicara yang
menyampaikan pembicaraannya secara spontanitas jelas akan menjadikan
penyimak lebih mudah memahami isi pesan yang disampaikan.
v Empati
Ketegasan merupakan suatu unsur
penting yang harus dimanfaatkan oleh pembicara dalam menyampaikan
pesannya.. Mengapa? Karena hal itu dapat menimbulkan suasana suportif pada
penyimak dalam menyerap dan memahami isi pesan pembicara.
v Ekualitas
Unsur lain dalam berbicara yang
dapat menjadikan suasana suportif dalam kegiatan mendengarkan adalah ekualitas
atau adil. Unsur ini sebaiknya dimanfaatkan oleh pembicara untuk menarik
minat penyimak terhadap pesan yang disampaikan.
v Provesionalisme
Ketepatan dan ketentuan yang berlaku
walaupun sifatnya sementara merupakan unsur pembentuk suasana mendengarkan yang
suportif. Unsur ini dapat dimanfaatkan pembicara untuk menarik minat penyimak.
G.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAM MENDENGARKAN
Dalam mendengarkan banyak hal yang mempengaruhinya,
akibatnya adalah gagalnya kita memahami apa yang akan kita inginkan. Untuk itu,
cobalah diskusikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mendengarkan.
Menurut HG Tarigan dalam Hunt (1981: 19-20)
factor-faktor yang mempenagruhi mendengarkan adalah:
a. Sikap
b. Motivasi
c. Pribadi
d. Situasi
kehidupan
e. Peranan dalam
masyarakat.
Sedangkan HG Tarigan; 1986: 99-107,
mengatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi dalam mendengarkan adalah
sebagai berikut.
a.
Faktor Fisik
Pada
waktu mendengarkan faktor fisik adalah faktor penting yang turut menentukan
kefektifan dalam mendengarkan. Di sekolah guru hendaklah dengan cermat
dan teliti menyiapkan suasana belajar yang tidak mudah mendatangkan
gangguan bagi kegiatan mendengarkan. Apabila siswa ada yang bermasalah
dengan telinga atau pendengaran maka siswa tersebut duduknya harus di depan
agar simakan jelas.
b.
Faktor Psikologis
Di
samping faktor fisik yang telah dikemukakan di atas ada hal yang sangat sulit
diatasi yaitu faktor psikologis. Faktor tersebut mencakup masalah antara lain:
§ Berprasangka dan kurangnya simpati
terhadap pembicara.
§ Egois terhadap masalah pribadi.
§ Berpandangan sempit terhadap isi
pembicaraan.
§ Kebosanan dan kejenuhan yang
menyebabkan tidak adanya perhatian terhadap pokok pembicaraan.
§ Sikap yang tidak senang terhadap
pembicara.
c.
Faktor Pengalaman
Pengalaman
adalah faktor yang sangat penting dalam mendengarkan. Apabila seseorang
berpengalaman dalam mendengarkan maka bahan simakan akan dikaitkan dengan
pengalaman yang telah dimiliki. Selain itu kosakata yang dimiliki si
penyimakpun sangat banyak dan jika menyampaikan kembali sangatlah lancar.
d.
Faktor Sikap
Pada
dasarnya manusia hidup mempunyai dua sikap utama yaitu sikap menerima dan
menolak. Orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan
menguntungkan baginya, tetapi ia akan bersikap menolak pada hal-hal yang tidak
menarik dan tidak menguntungkan baginya. Kedua hal ini memberi dampak pada
penyimak yaitu dampak positif dan negatif.
e.
Faktor Motivasi
Motivasi
merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau motivasi kuat
untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan berhasil
mencapai tujuan. Begitu pula halnya dengan mendengarkan.Dalam kegiatan
mendengarkan kita melibatkan sistem penilaian kita sendiri. Kalau kita
memperoleh sesuatu yang berharga dari pembicaraan maka kita akan bersemangat
mendengarkannya.
f.
Faktor Jenis Kelamin
Gaya
mendengarkan pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik,
rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, mudah dipengaruhi, mudah mengalah
dan emosional. Sedangkan gaya mendengarkan wanita pada umumnya bersifat pasif,
lembut, tidak mudah dipengaruhi , mengalah, dan tidak emosi.
g.
Faktor Lingkungan
Dalam faktor lingkungan dapat dibagi dua yaitu (1)
lingkungan fisik. Lingkungan fisik yang penting adalah ruangan kelas yaitu
sarana pendukung diantaranya akustik. Guru harus mengarahkan dengan jelas
dan juga membangkitkan motivasi siswa agar mereka dapat mendengarkan dengan baik.
(2) Lingkungan sosial; dalam mendengarkan sebaiknya wacana yang dibacakan
mendorong siswa untuk mengalami, mengekspresikan serta mengevaluasi ide-ide
yang disimak.
h.
Faktor Peranan dalam Masyarakat
Mendengarkan
tidak terlepas dari masyarakat dan lingkungannya. Informasi yang didapat bisa
melalui radio, TV, nara sumber, dan masyarakat sekitarnya.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi
mendengarkan sangat banyak mulai dari diri sendiri sampai pada masyarakat luas.
Yang penting sebagai penyimak yang baik kita harus menghindari
faktor-faktor yang menyebabkan kita gagal dalam mendengarkan.
H.
CARA MENINGKATKAN DAYA SIMAK
Nah,
setelah Anda memahami faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mendengarkan,
selanjutknya silakan pahami bagaimana cara meningkatkan daya simak. Tujuannya
adalah agar informasi yang kita dengarkan berhasil dengan baik. Menurut HG
Tarigan (1986: 147-152) untuk meningkatkan daya simak, ada beberapa cara yang
dapat dilakukan.
a.
Mendengarkan konversasif
Untuk perbaikan serta kemajuan dalam
mendengarkan konversasif maka dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini.
o Menyiapkan siswa dengan baik agar
perhatian terfokus pada apa yang disampaikan.
o Menyampaikan cara mendengarkan yang
baik.
o Membuat rekaman dan menerapkan
cara-cara menjadi penyimak yang baik.
o Mengevaluasi percakapan yang
disimak.
o MeMemotivasi siswa untuk menilai
dirinya sendiri.
o Memberi kesempatan kepada masing-masing
kelompok untuk saling menilai.
b.
Mendengarkan Apresiatif
Dalam upaya meningkatkan serta
mengembangkan kemampuan siswa dalam mendengarkan, maka berikut ini ada beberapa
langkah yang dapat dilakukan.
o Membuat rekaman cerita dan puisi
yang digemari oleh siswa, kemudian siswa mendiskusikan cerita atau puisi
tersebut dalam kelompok.
o Menceritakan tentang pemandangan
yang disenangi oleh siswa.
o Siswa secara bergiliran menceritakan
kembali apa yang telah dibacanya.
o Menceritakan kembali apa yang
disimak dari radio atau TV.
o Memilih salah satu topik yang
menarik untuk disimak kemudian memberikan penjelasan mengapa topik itu dipilih
untuk disimak.
o Membuat lembar penilaian untuk
penilaian penyimakan dari radio atau TV.
o Membentuk panitia untuk memberikan
pengumuman pada suatu lomba mendengarkan.
c.
Mendengarkan Eksplorasif
Untuk
meningkatkan mendengarkan eksplorasif ini maka ada beberapa hal yang dapat
dilakukan.
o Untuk memperluas dan memahami makna
kata, sebelum mendengarkan para siswa dapat membaca kata-kata tertentu yang
telah dituliskan di papan tulis. Mereka akan memahami makna dengan
memperhatikan konteks pemakaian kata-kata tersebut dalam bahan simakan.
o Setelah mendengarkan suatu petunjuk
yang dibacakan satu kali, siswa disuruh melakukannya, misalnya; eksperimen
sesuai dengan bahan simakan.
o Setelah mendengarkan suatu petunjuk,
siswa disuruh menuliskannya sesuai dengan apa yang disimak.
o Siswa mendengarkan informasi
baru mengenai suatu topik. Cara yang baik membantu siswa dalam
mendengarkan informasi adalah mereka mendengarkan dengan menyiapkan pertanyaan
atau masalah yang telah dimiliki. Untuk mengetahuinya guru dapat mengajukan
berbagai pertanyaan.
d.
Mendengarkan Konsentratif
Dalam mendengarkan konsentratif ini
ada beberapa cara yang dapat ditempuh.
§
Permainan sederhana dengan melibatkan siswa mengulangi apa
yang telah dikatakan dalam pernyataan-pernyataan kumulatif sebelumnya.
Contoh:
Ani : “Saya
membeli jeruk.”
Ana : “Saya
membeli jeruk dan pisang.”
Ina : “Saya
membeli jeruk, pisang, dan mangga.”
Ida :
“Saya membeli jeruk, pisang, mangga, dan durian.”
Permainan ini berlangsung terus selama daftar komulatif
lengkap dan dalam susunan yang benar.
§
Mempantomimkan suatu cerita (tiga atau empat adegan) yang
sebelumnya telah disampaikan secara lisan.
§
Menceritakan kembali sesuai dengan hasil simakan.
§
Membuat gambar-gambar sesuai dengan cerita yang disimak.
Hal lain yang dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam mendengarkan adalah menganalisis rekaman singkat
atau pidato yang dibacakan oleh guru. Adapun yang dapat mereka dengarkan
adalah:
o Memperhatikan pendahuluan atau
kalimat pembuka.
o Mendengarkan hal-hal penting yang
terdapat dalam pidato.
o Mendiskusikan hal-hal penting yang
telah disimak.
o Memperhatikan kesimpulan.
I.
PERILAKU BURUK DAN BAIK DALAM MENDENGARKAN
Untuk keberhasilan dalam mendengarkan, tentunya Anda harus
menghindari prilaku buruk yang tidak boleh dilakukan dalam mendengarkan dan
melakukan serta menerapkan hal yang baik agar mendengarkan berhasil.
Dalam percakapan tentu ada yang berbicara dan mendengarkan.
Bila seseorang sedang berada dalam posisi mendengarkan, sebaiknya ia bertindak
sebagai pendengar yang baik. Tetapi dalam kenyataannya tidaklah demikian karena
sering sekali pendengar memperlihatkan perilaku yang buruk.
Menurut Atar Semi
(1994; 62-65) ada beberapa ciri-ciri
perilaku mendengarkan yang buruk dan baik. Adapun perilaku tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Selalu mengganggu pembicaraan yang
sedang berlangsung. Misalnya; tidak memperhatikan pembicara atau melakukan
kesibukan lain.
b. Mengalihkan pikiran ke masalah lain
atau tidak berkonsentrasi.
c. Memperlihatkan sikap yang hendak
memotong pembicaraan.
d. Tidak dapat menyimpulkan isi
pembicaraan.
e. Menulis semua pembicaraan tanpa
mempunyai kemampuan menulis ide pokok.
f. Tidak mempunyai reaksi saat diajukan
pertanyaan, apabila ya maka kelihatan terkejut dan pertanyaan diminta untuk
diulang.
g. Tidak menunjukkan kegairahan serat
bergaya acuh tak acuh.
h. Bermain-main dengan pulpen, kertas,
mengerak-gerakan kaki, menggigit kuku, dan lain-lain.
i.
Mengajak teman berbicara yang tidak ada kaitannya dengan
pembicaraan.
Dari
uraian di atas maka jelas bahwa apabila ada penyimak yang melakukan hal-hal
tersebut maka penyimak tersebut kehadirannya tidak bermanfaat atau
pengganggu kelancaran dalam berdiskusi.
Selanjutnya
agar kita mendengarkan berhasil dengan baik, perhatikanlah cirri-ciri pendengar
yang baik.
a. Pandangannya tertuju kepada lawan
bicara ketika pembicaraan sedang berlangsung.
b. Apabila sedang mencatat pembicaraan,
maka pandangannya tertuju pada pembicara dan catatan.
c. Mengajukan pertanyaan apabila ada
bagian isi pembicaraan yang meragukan.
d. Apabila menanggapi, maka akan
mengulangi kata-kata pembicara kemudian langsung memberikan pendapat
secara singkat.
e. Tidak mempunyai prasangka buruk,
karena itu ia dengan tekun mendengarkan apa yang disampaikan pembicara.
f. Memperhatikan dengan penuh perhatian
keterangan dengan berusaha mengendalikan emosi disaat mendengarkan sesuatu yang
tidak disetujui.
g. Mengikuti jalannya pembicaraan
dengan wajah yang penuh persahabatan, senyum, dibantu dengan sedikit anggukan
kepala pertanda mengikuti pokok pembicaraan, serta dibantu pula dengan mimik
yang meyakinkan.
h. Memperhatikan lawan bicara dengan
penuh perhatian.
i.
Tidak memotong pembicaraan lawan bicara dan membiarkan lawan
bicara menyelesaikan kalimatnya.
j.
Tidak mengalihkan pokok pembicaraan ke pembicaraan lain.
k. Bila perlu mencatat hal-hal yang
penting saja.
l.
Tidak membuat gerakan atau tingkah laku yang mengganggu
kelancaran komunikasi.
Apabila seorang penyimak memenuhi persyaratan di atas, maka
ia akan mempunyai tiga keuntungan. Pertama, akan memperoleh banyak
pengetahuan. Kedua, akan menjadi pembicara yang baik. Ketiga, akan diterima
baik dalam pergaulan karena memperlihatkan sikap yang baik kepada orang lain.
J.
ALASAN UNTUK MENDENGARKAN
Ada beberapa alasan mengapa orang mendengarkan. Untuk itu
Anda perlu memahami mengapa seseorang mempunyai alasan mendengarkan. Menurut HG
Tarigan (1986:140-1420) mengemukakan ada beberapa alasan mengapa orang
mendengarkan.
a.
Ingin mempelajari sesuatu dari bahan simakan
Banyak cara untuk belajar. Salah satu caranya adalah melalui
mendengarkan. Misalnya dengan mendengarkan ceramah, pidato, ilmu pengetahuan
baik melalui sekolah ataupun langsung dari nara sumber lainnya.
b.
Ingin memikat hati orang lain
Hidup adalah memberi dan menerima,
menghargai dan dihargai. Salah satu cara untuk menghargai serta untuk dapat
memikat hati orang lain adalah dengan cara mendengarkan pembicaraan pembicara.
Bagi orang yang sudah sering berbicara di muka umum akan jelas terasa
betapa sedihnya kalau orang tidak mendengarkan pembicaraannya. Setiap pembicara
akan senang atau menaruh simpati kepada orang yang mendengarkan pembicaraannya.
c.
Ingin menjadi orang yang sopan
Salah satu ciri dari orang yang
sopan adalah mau mendengarkan pembicaraan misalnya; keluhan dan pesan dari
orang lain
d.
Ingin mencari keuntungan
Dalam dunia moderen ini ada orang
yang bisa mendapatkan rizki melalui mendengarkan yang sering disebut dengan
“uang dengar” Hal ini sering terjadi dalam penawaran baik dari penjual ataupun
dari pembeli. Seseorang dapat bisa memperoleh rejeki atau uang dengan
mempertemukan penjual dan pembeli lalu jadilah transaksi maka si penyimak
akan memperoleh uang.
e.
Memperoleh manfaat dari bahan simakan
Dalam kegiatan mendengarkan selain
memperoleh uang juga dapat pula moral nonmaterial. Dari berbagai kegiatan
mendengarkan seseorang dapat mengetahui, memahami, bahkan dapat
memecahkan masalah. Dengan demikian si penyimak dapat terhindar dari masalah
yang sedang dihadapi.
f.
Ingin menghilangkan rasa bosan
Rasa bosan bisa terjadi pada semua
orang. Untuk mengobatinya maka dapat dilakukan mendengarkan yang ada hubungan
dengan hobi kita. Atau dapat juga mendengarkan dengan menonton lawak, film di
TV.
g.
Ingin membandingkan beberapa pendapat
Penjelasan atau keterangan mengenai
suatu ilmu dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk sumber lisan. Semakin
banyak kita mendengarkan penjelasan dari beberapa nara sumber, maka cakrawala
pandangan kita mengenai ilmu semakin luas. Selain itu kita pun dapat
mengetahui perbedaan dan persamaan pendapat dari para nara sumber
tersebut.
h.
Ingin memenuhi rasa ingin tahu
Sebagai manusia mempunyai rasa
ingin tahu terhadap sesuatu adalah hal yang sangat wajar karena apabila kita
banyak mengetahui sesuatu maka semakin banyak pula kita tidak tahu. Ini adalah
salah satu dorongan atau motivasi yang membuat kita ingin mendengarkan.
i. Ingin
disenangi orang lain
Seorang guru atau
pembimbing harus menjadi penyimak yang sabar. Segala keluhan atau
kendala dari seseorang harus didengarkan dengan baik. Semakin sabar dan asyik
ia mendengarkan kata hati orang lain, maka semakin banyak pula orang yang
menyenangi serta membutuhkannya.
Berdasarkan uraian di atas maka
jelas bahwa mendengarkan sangat penting dan menguntungkan karena dengan
mendengarkan kita mendapatkan informasi, menguntungkan, untuk menghibur diri,
dan untuk membandingkan pendapat yang sudah kita peroleh sebelumnya.
K. TIPS UNTUK MEMPERBAIKI KEMAMPUAN
MENDENGAR
Merasa tertinggal pada saat orang-orang disekitar Anda
berbahasa Inggris? Jangan khawatir! Mendengar mungkin merupakan keahlian yang
paling sulit untuk dikuasai, tetapi bukannya tidak mungkin. Gunakan lima
petunjuk praktis berikut untuk meningkatkan keahlian mendengar Anda!
ü
Pahami keterbatasan Anda
Dengarkan bahasa Inggris sebanyak mungkin, tapi dalam
periode waktu yang singkat. Otak Anda bukanlah mesin! Jika Anda mulai merasa
frustrasi dan tidak mengerti, istirahatlah dan mulai lagi nanti. Ingat,
mengembangkan keahlian mendengar yang baik membutuhkan banyak waktu, latihan,
dan kesabaran.
ü
Harus selektif
Menerjemahkan setiap kata yang Anda dengar akan membuat Anda
ketinggalan keseluruhan percakapan. Jika Anda mendengar orang berbahasa
Inggris, perhatikan kalimat-kalimat kuncinya. Catat dan terjemahkan nanti. Anda
akan merasa keterampilan mendengar Anda meningkat dan kosa-kata Anda bertambah.
ü
Perhatikan pola suara
Pernah memperhatikan bagaimana penutur asli menekankan
kata-kata tertentu? Benar! Jika Anda mendengarkan dengan baik, Anda akan
menemui polanya. Isi kata (kata benda, kata kerja, dan kata sifat) biasanya
diberi tekanan, sedangkan kata fungsi (preposisi, kata ganti, dsb) tidak.
Perhatikan penekanan kata, dan Anda akan dapat mengerti garis besar dari sebuah
dialog atau percakapan.
ü
Tontonlah DVD
Semua orang suka menonton film. Jadi, mengapa tidak
menggunakannya untuk latihan mendengar? Caranya mudah! Lihat satu babak dari
film favorit Anda. Pertama, tonton dengan menggunakan teks bahasa Indonesia
agar Anda memahaminya. Kemudian tonton lagi, tetapi gunakan teks bahasa
Inggris. Saat ini, Anda seharusnya sudah mengerti dialog dan alur ceritanya.
Sekarang, tonton sekali lagi tanpa teks, dan hanya fokus pada mendengarkan.
REFERENSI
Fajar Pakong
BalasHapusPrediksi Togel
Rekomendasi situs poker
Kumpulan website judi
Bandar Slot game online
Situs slot game online terpercaya